Tuesday, May 22, 2007
KDRT
Meski aku jauh dari rumah, namun banyak sekali orang yang tidak seberuntung diriku. Berapa banyak orang yang tidak memiliki rumah. Tapi yang lebih menyakitkan adalah rumah terkadang menjadi tempat yang paling menakutkan. Dan keluarga menjadi orang yang menakutkan. Kekerasan Dalam Rumah Tangga. KDRT. Arist Merdeka Sirait dari Komisi Nasional Perlindungan Anak berujar bahwa sekitar 90 persen kekerasan dilakukan oleh orang yang dikenal. Dan dari angka itu, 90 persen pelakunya adalah perempuan. Data yang mengejutkan bagiku.
Dari pengalamanku liputan di Metro selama hampir 6 bulan, aku berusaha mengingat-ingat beberapa kasus KDRT.
Bidara Cina. Saat itu aku bertemu dengan seorang anak laki-laki kelas 4 SD di Polres Jaktim. Ia menjadi korban penganiayaan ibu kandungnya. Selain lebam-lebam dibadannya, terdapat luka bekas gigitan dipaha kirinya. “Kalau Mama lagi kesal, aku sering dipukul,” kata anak itu.
Komnas PA. Kasus seorang perempuan yang diperkosa sejak umur 14 tahun oleh ayah tirinya. Dan kejadian ini berlangsung selama empat tahun sebelum ia berani melawan. TKP di Cilincing.
Komnas PA. Seorang balita berumur 2 tahun diduga tewas dianiaya oleh ibu kandungnya. Badannya penuh memar, bibirnya robek, di punggungnya terdapat bekas telapak kaki, belakang kepalanya memar, dari hidungnya keluar cairan putih yang diduga adalah cairan otak. Anak manis yang malang. TKP di Depok.
Pulogadung. Istri bunuh Suami. Saat sang suami sedang tertidur lelap, satu tusukan menhujam perutnya. Si suami berusaha lari, namun istrinya yang kalap mengejarnya. Dengan pisau dapur ditangan ia menusukkan pisau itu berulang-ulang ke tubuh si suami. Si suami terkapar dijalanan dan akhirnya meninggal di RS. Hal ini diduga karena uang Rp 500 ribu dan cemburu.
Kramat Jati. Suami bunuh istri didepan anak tunggal mereka. Entah apa yang menyebabkan pria ini kalap. Di suatu pagi ketika istrinya selesai memandikan putrid tunggal mereka, ia menghujamkan 6 tusukan di tubuh istrinya. Sebelum ia akhirnya mengiris nadinya. Istrinya meninggal, ia berhasil diselamatkan.
Duren Sawit. Atau yang lebih menyedihkan menimpa seorang anak kelas 2 SD. Ia mendapat penganiayaan disekolah. Pelaku adalah sepasang anak kembar yang sekelas dengannya, perempuan pula. Entah karena penganiayaan itu atau bukan, si anak akhirnya meninggal 4 hari setelah kejadian.
Di luar KDRT, tentu masih banyak kekerasan dan kejahatan terjadi. Dimana lagi tempat aman didunia ini? Copet, maling, rampok, penculik, pemerkosa, pedofil, pembunuh berkeliaran. Tapi jika rumah sendiri sudah menjadi tempat yang menyeramkan, ah…tapi jika orang-orang terdekat justru menjadi ancaman, ini sudah keterlaluan.
Masa kita harus selalu waspada dan curiga 24 jam sehari. Seperti kasus istri yang membunuh suaminya ketika ia sedang tertidur. Bahkan orang yang tidur disebelah kita pun tak dapat dipercaya. Atau ketika ternyata sekolah pun menjadi tempat yang tidak aman. Di sekolah terancam dipukul, tak hanya teman, guru pun bisa menjadi pelaku. Di Jakarta Pusat, seorang guru mencabuli enam murid perempuannya yang masih SD. Pulang sekolah pun penculik mengincar.
Ah…dunia ini semakin sakit saja.
Mimpi
Saya tidak ingin membahas mengapa manusia bermimpi atau bagaimana mimpi bisa terjadi. Saya tentu tidak punya kompetensi untuk itu. Saya hanya ingin menulis dampak mimpi, khususnya bagi diri saya sendiri. Mimpi indah membuatku tersenyum kala terbangun. Mimpi buruk membuatku terkadang tertegun resah. Namun, sebagian besar mimpi yang ku alami tidak pernah ku anggap serius.
Sampai detik ini mungkin ada tiga mimpi yang menjadi pengecualian. Pertama, mimpi basah pertamaku, yang menurut banyak ahli menandakan peralihan dari anak-anak menjadi remaja dan dewasa. Beruntungnya diriku ketika dalam lelapku aku bisa bermesraan dengan Salma Hayek. Wow.
Pernah juga suatu kali aku berada jauh dari rumah. Bersama kawan, aku ke luar kota selama seminggu. Pada malam kedua, aku bermimpi Mamaku sakit. Tanpa banyak pertimbangan aku memutuskan untuk pulang. Syukurlah Mamaku baik-baik saja. Terimakasih Tuhan.
Ketiga adalah mimpi yang baru saja ku alami. Nampaknya tak perlu kuceritakan isi mimpiku. Mimpi yang sederhana. Tapi mengingatkanku akan sakitnya kehilangan. Mimpi yang menyentak jiwa. Dan menyadarkanku akan perihnya penyesalan. Karena dalam mimpi, aku kehilangan wanita yang kucintai. Ia meninggalkanku. Dan aku adalah penyebabnya. Aku tidak memperlakukan diriku seperti orang yang mencintainya. Aku tidak memperlakukan dirinya seperti orang yang dicintaiku. Ia ada bersamaku lalu menghilang.
Mimpi ini seperti cerminan diriku saat ini. Mimpi ini seakan mmperlihatkan apa yang akan terjadi jika aku terus seperti ini. Menyia-yiakan kesempatan dan waktu. Dan aku berterimakasih mimpi ini mengingatkanku sebelum aku benar-benar kehilangan dirinya. Dulu, aku pernah berjanji kepadanya akan selalu mencintainya. Sekarang, aku berjanji kepada diriku sendiri untuk selalu mencintainya.
Mimpi yang mengingatkanku akan pentingnya arti dirinya bagiku.
Thursday, May 17, 2007
Rindu Sesal
Gumaman resah yang tak terucap
Sembunyi dibalik hening
Antara dua hati
Dalam pikir dan laku
Berlalu dan menggapai angin
Mimpi yang tak terbeli oleh waktu
Sesal...
Waktu tak terbeli diantara singkatnya yang tersedia untuk kita
Sesal...
Mengenang hari yang berlalu
Malam yang terlewati
Tanpamu disisiku
Sesal...
Karena bersamamu berarti bahagia
Dan aku melewatkan itu
Entah mengapa, kamu selalu menelusup kedalam pikiranku. Mengiringi setiap nafas dan gerakku. Semalam diantara derai tawa canda bersama kawan, terselip getir dijiwa. Aku merasa ada yang hilang, tak sempurna dari keceriaan malam itu. Tak ada yang lebih aku inginkan selain bersamamu. Kemarin, hari ini, esok, hingga selamanya.
Entah dimana kamu berada? Entah apa yang sedang ia lakukan saat ini. Sedangkan aku begitu merindukanmu di sudut kota yang sepi ini. Apakah didalam hatimu terpercik seuntai rindu untukku? Apakah kamu juga memikirkanku? Aku tak tahu. Seperti mungkin kamu juga yang mungkin tak pernah tahu betapa aku ingin bersamamu. Betapa aku ingin menemuimu saat ini. Mendekap erat hatimu.
Apakah terbersit dua keinginan yang sama diantara kita berdua?
Ku akui sampai hari ini aku memang terlalu egois. Lebih sibuk dengan "kepentingan"ku yang tak berarti dibandingkan dirimu.
Kataku beku
Kataku tak lagi bermakna
Hampa
Kosong
Tak berarti apa-apa
Berdengung bak sayap lebah berpacu
Dan diam suarakan banyak cerita
Dan kamu layak dapatkan lebih
Daripada sederet kata yang tak lagi berarti
Sesuatu yang belum kuasa ku tunjukkan
Sesuatu yang masih tersimpan dibalik alasan
Dan aku terhempas
Terpuruk tanpa daya
Sendiri...
Sesali waktu yang pergi
Aku tak sanggup berpura-pura tak membutuhkanmu
Aku tak sanggup berandai hidup tanpa dirimu disisiku
Aneh...
23 tahun aku telah hidup didunia ini
Tanpamu aku berjalan
Tanpamu aku bermimpi
Tiba-tiba,
aku merindukanmu
Menginginkanmu teramat sangat menemani jiwa, hati, dan raga
Hari dan malamku tak lagi seperti dulu
Dalam canda tawa kini terselip getir
Bahagia kian menjauh tanpamu dalam hidupku
Dan kini aku membutuhkanmu menjalani sisa waktuku
Mahalnya Berkunjung Ke LP Cipinang
Dari pengalaman pribadi, uang Rp 2.000 diperlukan untuk memperlancar proses pendaftaran kunjungan. Ironisnya didepan pintu masuk tertera tulisan besar "Kunjungan Tidak Dipungut Biaya". Saya mencoba tidak memberikan uang tips tersebut, seorang petugas menahan lembar formulir sambil berkata, "Sukarelanya mas." Dua lembar uang seribuan pun melayang. Tampaknya pungutan liar di LP telah menjadi rahasia umum. Mia yang membesuk pacarnya rutin seminggu dua kali bercerita ia menghabiskan uang minimal Rp 200 ribu setiap berkunjung. "Untuk petugas dan bekal didalam," katanya. Begitu pula dengan pengunjung lain yang memang sudah mengerti kebiasaan di sana.
Setelah mendapat formulir, pengunjung menuju portir. Disitu, ada empat pos yang membutuhkan sumbangan sukarela tadi. Pertama, untuk mendapatkan cap/stempel LP ditangan. Sambil bertanya berapa orang yang berkunjung dan siapa yang ingin dikunjungi, petugas mengetok kaleng biskuit tempat uang sambil berkata persis pos sebelumnya. "Uang sukarelanya mas," katanya.
Lalu, saya bergeser ke tempat penitipan KTP atau kartu identitas lainnya yang hanya berjarak 2 meter dari pos sebelumnya. Lembar demi lembar uang ribuan pun kembali melayang. Setelah itu, saya menuju tempat penitipan handphone, kamera, dan senjata api. Uang Rp 2 ribu kembali dikutip sebagai jasa penitipan. Setelah menerima kartu titipan dan tanda pengenal pengunjung, saya menuju ruang pengeledahan. Isi tas dibongkar, tapi sebelumnya Saya meletakkan uang Rp 2 ribu dikaleng yang berisikan lembaran ribuan lain. Satu handphone pun lolos.
Lalu, saya menuju ke ruang tunggu, tempat bertemu dengan tahanan yang ingin ditemui. Disitu, diperiksa kembali formulir kunjungan dan tanda pengenal pengunjung. Setelah itu, saya menuju ke barisan meja dimana petugas LP dan beberapa Tamping berompi kuning duduk. Tamping ini bertugas memanggil tahanan yang hendak ditemui. Setelah menunjuk seorang Tamping, petugas kembali meminta uang. "Untuk yang memanggil," katanya.
Saya mencari tempat yang sepi dan duduk. Tak lama, seorang tahanan menghampiri saya. Ia memperkenalkan dirinya sebagai Bom. Telah dua tahun ia mendekam disana. Ia mengaku bertugas mengumpulkan daftar "Korea", sebutan bagi tahanan yang bersuku Batak. Bisa ditebak, ia pun meminta uang rokok sebagai perlindungan bagi tahanan yang hendak ditemui. Uang Rp 10 ribu pun melayang.
Sekitar sepuluh menit kemudian, Tamping yang bertugas memanggil tahanan yang ingin ditemui saya datang. Namun, ia sendirian. "Ia ga mau ditemui. Katanya mau istirahat," ujarnya. Ia tak berani memaksa, karena kebetulan tahanan tersebut satu kamar dengan orang yang disebut "foreman", tahanan yang menjadi kepala blok. Saya meminta Tamping tadi menemui tahanan yang ingin ditemui sekali lagi. Sebagai jasa, uang Rp 5 ribu pun keluar dari kantong.
Selama 15 menit menunggu, aula tersebut bak stadion. Hilir mudik ada saja yang menawarkan minuman, juice, ataupun makanan kecil. Tentu saja dengan harga spesial LP. Lebih mahal dengan rasa ala kadarnya.
Tak lama, Tamping tersebut kembali dengan tangan kosong. Bom menawarkan jasa untuk memanggil tahanan tersebut, tentu saja dengan tambahan biaya. "Untuk uang kunci dan foreman," katanya. Selain itu, ia juga meminta saya menyiapkan uang untuk tahanan yang ingin dikunjungi. "Nanti ia butuh untuk petugas ditiap meja dan foreman," katanya. Minimal, katanya, ada 3 meja yang harus disetor.
Ya sudahlah, uang dikantong tak cukup untuk membayar semua itu. Saya pun mengurungkan niat untuk bertemu dengan tahanan tersebut. Uang puluhan ribu melayang tanpa hasil.
Kecewa Kecewa Kecewa
Aaarghhhh....
Ucapan selamat yang mengiris hati.
Kuli tinta bagaikan prajurit. Selalu siap dengan segala perintah. Meski tak selalu suka ataupun setuju. Tak pernah sekalipun gw diajak bicara, tiba-tiba dapat perintah : pindah. Gw hanya pion yang tak berdaya.
Pertama kali mendarat di perusahaan ini, gw ditempatkan di kompartemen ekonomi dan bisnis. Liputan elit nan sejuk. Tujuh bulan kemudian, gw dipindah ke kompartemen metro. Kontras. Panas membakar kulit, kuyup ketika hujan. Enam bulan di ranah kriminal, ditarik lagi ke ekonomi. Gw shock mendengar kabar tersebut. Kecewa. Sedih.
Sebelum gw pindah ke Metro, bos di ekbis pernah berujar,"Kamu akan ditarik ke ekbis lagi." Janji yang belum perlu ditepati. Gw udah terlanjur jatuh cinta di Metro. Rekan-rekan pemburu berita sudah seperti keluarga di Pena Timur. Bukan sekedar kerja atau liputan. Bagi gw, Metro adalah hidup. Metro adalah realita. Gw kecewa dengan bos gw di Metro, tapi tidak dengan Metro.
Siapa yang peduli berapa tingkat inflasi asal rakyat cukup makan. Siapa yang peduli berapa tingkat suku bunga asal rakyat bisa sekolah. Siapa yang peduli tingkat pertumbuhan ekonomi asal rakyat bisa kerja. Siapa yang peduli IMF, Worldbank, kebijakan fiskal, indeks saham, kurs atau apalah itu, asal rakyat sehat, aman, dan sejahtera.
Wednesday, May 9, 2007
Gawat
Gawat
Terus terang gue ga tau harus menjawab apa. Gue juga belum pernah bertemu camer (masalahnya ga ada...hehehe). Tapi tak urung gue memberikan saran juga. Tak tega melihatnya kebingungan. “Takut kenapa? Paling disuruh nikahin anaknya,” kataku singkat.
“Boro-boro disuruh kawin. Mau nikahin anaknya aja, mereka belum tentu setuju?” “Just be yourself. Katakan apa adanya. Bahwa kamu mencintai anaknya. Kamu akan membahagiakannya,” kataku.
“Tapi bagaimana kalau mereka tidak suka kepada gue?” tanyanya masih ragu.
“Anaknya suka ga sama lo?”
“Suka. Kita sudah pacaran dua tahun, masa ga suka sih?” jawabnya dengan yakin.
“Bagus. Jika dia yakin bahagia bersamamu. Sampaikan kepada orangtuanya. Mana ada orangtua yang tidak ingin anaknya bahagia? Mereka pasti setuju,” saranku lebih lanjut.
Lalu, terjadilah pertemuan bersejarah itu. Sekitar pukul satu pagi, ia kembali menghubungiku. “Gue takut,” katanya pelan. “Takut apa lagi? Mereka tidak suka padamu?” tanyaku penasaran.
“Bukan. Gue takut mereka mendesak untuk cepat-cepat menikahi anaknya,” jawab temanku tak bersemangat. Waduh, gimana ini. Kemarin takut camer ya setuju. Giliran camer sudah oke, takut disuruh nikahin anaknya. Gawat.
KAPAN???
KAPAN???
“May...”jawab pemeran film jomblo tersebut singkat.
“Hei....Ringgo mau nikah bulan Mei,” teriak seorang perempuan histeris.
“May be yes, may be no,” ujar Ringgo santai sambil mengunyah makanan dan ngeloyor pergi.
Yup, sepotong adegan dari satu iklan rokok yang kerap mengisi layar kaca akhir-akhir ini.
Suatu waktu, aku mendapat ide untuk menggunakan jawaban itu. Minggu pagi, 30 menit menuju pukul enam, Mamaku menelepon. Seperti biasa, setelah bertanya kabar, tak tertahankan kemunculan pertanyaan pamungkas itu. “Kapan?” tanya Mamaku.
Ku jawab dengan santai dan singkat ala iklan,”May...”
Dengan sigap Mamaku merespon,”Katanya Februari, kok jadi Mei.”
Aku terdiam sejenak. Aku pikir aku tak bisa menjawab “may be yes, may be no”. Bisa-bisa aku mendapat kuliah pagi 3 SKS dari Mamaku. “Jadi, maunya kapan?” aku bertanya balik.
“Secepatnya. Tapi jangan tahun ini,” kata Mamaku. Tahun ini, maksudnya adalah tahun babi kalender versi Cina. Aku yang bershio babi, konon katanya kurang baik menikah ditahun babi. Ya, bagiku cukup membantu untuk mengurangi tekanan setidaknya untuk satu tahun. Aku kerap protes. “Aku masih terlalu muda untuk menikah,” kataku. Sekarang, umurku belum genap 24 tahun. Tapi, seperti demo-demo dipinggir jalan, suaraku hanya sebentar tergiang, lalu menghilang.
Jon, kakakku, menikah ketika ia berumur 25 tahun. Cukup muda. Sekarang ia sudah memiliki putri perempuan yang lucu berumur 6 bulan. Tapi jangan tanya kepada orang-orang di kampung halamanku, di Bangka sana. Meskipun sudah memasuki dunia modern, tapi paradigma kalo udah KERJA lalu KAWIN, tetap berjaya. Aku ingat dengan teman-teman satu angkatanku SD dulu. 90 persen dari mereka telah menikah dan punya anak. Bahkan ada yang telah menikah dua kali dan tiga kali.
Teman-teman SD, SMP, hingga SMA-ku, sudah banyak yang berguguran dari status lajang mereka. Aku ingat pula ketika SMA dulu, aku orang yang hobi keluyuran dengan dua teman dekatku, Edi dan Amsuri. Setiap hari, sepulang sekolah, balik kerumah sebentar, kemudian pergi lagi. Begitu juga ketika aku ke Jakarta. Semester-semester awal kuliahku ku habiskan dengan keluyuran. Mamaku sempat protes. “Jangan keluyuran terus,”katanya. Bukan karena protes Mamaku, tapi aku merasa bosan juga. Aku semakin jarang keluar rumah. Seperlunya saja. Bahkan pergi kuliah aja malas....parah. Ketika pulang kampung pun, sebagian besar waktu ku habiskan dirumah saja. Membaca buku, menonton televisi, mengutak-atik mesin motor, mobil, komputer, apa saja yang penting dirumah. Hal ini menimbulkan kekuatiran didiri Mamaku. “Sekali-kali keluar rumah lah. Jalan-jalan kemana gitu,” katanya.
Mama sering menelponku dimalam minggu hanya untuk mengingatkanku agar keluar jalan-jalan. “Cari pacar sana,” ujarnya. Hahaha....lucu. Aku ingat ketika semester 9 dan 10 kuliahku. Pertanyaan yang gencar diajukan juga “KAPAN?” Tapi kapan lulus. “Kok yang lain sudah lulus, kamu belum?” Apa hendak dikata. Keluarlah petuah-petuah dari Mama. “Kamu jangan pacaran dulu. Selesaikan kuliahmu.” Bahkan, pesan itu masih terselip tiga hari sebelum aku menghadapi ujian komprehensif. Tak disangka, jadi sarjana juga akhirnya.
Aku sudah melewati K yang pertama, yaitu KULIAH. Tepat pada saat aku menelepon Papa dan Mamaku mengabarkan bahwa anaknya ini lulus juga, keluar sebuah pertanyaan yang tak aku duga. “Sudah punya pendamping belum buat wisuda?” Alamak. Baru tiga hari yang lalu Mama bilang jangan pacaran. Belum genap satu kali dua puluh empat jam lulus, sudah ditanya tentang pendamping. “Memangnya tinggal mungut dijalan,” jawabku sedikit kesal.
Memang aku memiliki “pendamping” saat wisuda. Perempuan yang sangat cantik, baik, dan cerdas. She’s so special. Tak ada hal yang lebih aku inginkan didunia ini daripada dia. I do love her. Tapi, aku tak tahu apa yang terjadi dengan kami. It just so complicated. Aku memperkenalkan dia kepada Papa dan Mama sebagai seorang teman. Karena ia memang hanya teman. Tidak lebih. Mama menyukainya. Papa tak banyak bicara, tapi sepertinya setuju dengan Mama. Setelah itu, mulailah Mama gencar menanyakan status hubunganku dengan dia. Aku selalu berkilah. “Aku tak mau memikirkan itu dulu. Nantilah, ketika aku sudah tak lagi menjadi pengangguran,” kataku.
Tapi, Mama berpikiran lain. “Memangnya ga bisa bareng? Mama kan tidak memintamu untuk langsung menikah. Pacaran aja dulu,” kata Mamaku. Dan yang terjadi selanjutnya adalah sederet kisah lara. Aku semakin jauh darinya. Walau aku tahu dalam hatiku aku mencintainya, tapi memang ada jarak antara kami berdua. Seperti kami hidup di dua dunia yang berbeda. But, she’s always on my mind. She’s always on my heart. Aku menjalani K yang kedua, KERJA. Setelah itu muncul tuntutan baru tapi lama, apalagi kalau bukan K yang ketiga, KAWIN. Mama semakin rutin saja bertanya. Setelah berbulan-bulan berisikan desakan, akhirnya Mama tak lagi terlalu memaksa bertanya tentang dia. “Terserah sih siapa. Yang penting orangnya baik dan menyayangimu.” Aku tak peduli. Aku mencintai kebebasanku saat ini. Aku mencintai kehidupanku.
Seperti kata Seurieus Band, aku adalah jomblo bahagia. Bukan berarti aku tak pernah mencoba menjalin hubungan dengan wanita lain. Tapi, hatiku tak bisa berpaling darinya. Lirik kanan, lirik kiri, semuanya kandas karena dalam hatiku aku tahu bahwa aku mencintainya. I love everything in her. Yang aku inginkan hanyalah bersamanya, bukan yang lain. Tapi...akhirnya aku menyadari satu hal kenapa semua usahaku dengannya berantakan. Aku belum bisa menjadikan dia sebagai hal yang terpenting dalam hidupku. She’s is my number one dalam urusan perempuan. Itu secara parsial. Tapi dalam skala hidupku yang lebih besar, aku menduakannya. Aku salah. Dan aku mencoba memperbaikinya. Jika memang bukan dia....tak tahulah.
Hidup adalah Sebuah Esai
Kata orang "Hidup itu pilihan". Walaupun aku lebih suka menggambarkan hidup itu seperti esai. Sebuah esai yang bebas. Kita menulis jawaban kita atas pertanyaan-pertanyaan hidup. Terkadang jawaban itu tepat, terkadang hampir tepat, terkadang kurang tepat atau melenceng sama sekali.
Tak ada pilihan seperti opsi jawaban pada soal-soal ujian. Dalam konteks tersebut, segalanya lebih mudah karena jawaban yang tepat sudah tersedia. Tergantung pandai-pandainya kita menjatuhkan pilihan. Atau terkadang memerlukan sedikit keberuntungan.
Tapi hidup adalah sebuah esai. Kita tahu goresan pertama dari cerita hidup kita, namin tak tahu akan berakhir dimana. Tergantung buku apa yang ingin kita tulis. Kita yang menentukan cerita hidup kita sendiri.
Aku berkaca pada diriku hari ini. Setahun yang lalu, ketika aku memilih menjadi wartawan --yang tak pernah terpikirkan sebelumnya--, aku kembali bertanya,"Mengapa aku memilih profesi ini?" Latar belakang pendidikanku sama sekali tak mendukung karir yang kupilih -terlepas aku dimasukkan kedalam kompartemen ekonomi dan bisnis selama 7 bulan pertamaku--. Awalnya, karena aku ingin. Lalu, aku berusaha agar aku bisa. Atau pada saat itu tidak ada pilihan lain bagiku? Tidak juga. Aku punya pilihan lain, dan akupun memilih, dan aku menulis essay hidupku.
Setahun berlalu, keinginan menjadi seorang wartawan masih tetap menggema. Lalu, aku mulai kuatir. Bagaimana kalau hanya ini yang aku bisa? Bagaimana kalau aku tak mampu memilih karir yang lain meski aku ingin? Berarti cerita hidupku memang hanya dialur ini saja. Mudah-mudahan tidak.
Que Sera, Sera
Que Sera, Sera
Masa lampau adalah kenangan dan hari esok hanyalah sebuah harapan. Baik masa lampau dan esok hari tidaklah senyata hari ini. Tetapi impianku tidak hidup disaat ini, tapi terikat dengan masa lalu, terpenjara dalam harapan, terpaku menatap percikan fatamorgana keajaiban semu. Dan aku masih bernafas dalam impianku. Harapan dan keinginan akan masa depan membutakan kenyataan hari ini. Aku terhanyut dalam mimpi sehingga mengisi hidup tanpa usaha mengejar tujuan.
Aku jatuh cinta. Hampir semua manusia pernah jatuh cinta. Cinta itu mengubahku. Dan ketika cinta itu sendiri berubah, aku berpijak dalam hampa. Dan aku terjebak dalam metamorfosa tak sempurna. Aku masih terperangkap dalam kepompong mimpiku.
Seperti berdiri dalam lingkaran, aku dapat melangkahkan kakiku ke segala arah yang tampak sama pada awalnya, namun berujung pada akhir kisah yang berbeda. Dan aku berakhir di ujung getir.
Tentang cinta, terdapat banyak pertanyaan tanpa jawaban. Walau terkadang cinta adalah jawaban segala pertanyaan. Banyak yang mengatakan cinta itu bahasa yang universal, tapi menurutku cinta itu hanya bisa dimengerti diri sendiri. Bahasa yang diciptakan oleh masing-masing pribadi. Bahasa yang diperuntukkan bagi masing-masing pribadi. Karena cinta bak sidik jari. Unik dan tak ada yang sama di antara milyaran manusia.
Apakah harus tahu diri sebelum mencinta ? Yang jelas harus mengenal diri sendiri untuk memahami yang di cinta. Apakah ada batasan kelayakan dalam mencinta ? Oh, tidak. Karena semua makhluk lahir dengan hak dan kewajiban atas nama cinta. Tapi cinta adalah masalah kemampuan untuk memenuhi syarat-syarat cinta. Lantas apa itu cinta ? Tak ada definisi konsisten yang tak terbantahkan dan terpinggirkan alur-alur modernisasi. Apakah manusia harus membuang sisi-sisi yang dikatakan “gelap” demi cinta ? Cintaku adalah keseluruhan diriku. Dengan terang dan gelap dalam aku. Karena tanpa terang itu bukanlah aku. Dan tanpa gelap itu bukanlah aku. Aku adalah kesatuan dari terang dan gelap. Terang dan gelap itu tak terpisahkan karena itu dalam aku. Jika berkata aku mencintaimu, maka aku sebagai terang dan gelap mencintaimu.
Dan cinta akan menerima sepenuhnya, tidak hanya menerima terang dan membuang gelap. Dan cinta akan membutakan mata sehingga tak ada lagi terang dan gelap, yang ada hanya sosok yang dicinta. Seperti aku memandangmu karena aku mencintaimu.
Mungkin yang nampak dariku hanya setitik terang dalam gelap. Bagaikan pijaran pelita kecil di kala malam gulita. Dan api pelita itu terombang-ambing diterpa angin, kadang nampak, kadang hilang. Dan padam ketika habis minyaknya. Atau jika tak kuasa menahan godaan sapuan angin yang mengajaknya redup dan padam.
Dalam galau aku tak peduli
Dalam benci aku memaki
Dalam kecewa aku meneteskan air mata
Terdiam hancur lebur
Terurai bak debu jalanan
Mungkin aku salah, dan aku memang salah...dan pasti bisa salah. Maafkan walaupun sesalku terlambat datang.
Sekali lagi maaf atas hancurnya mimpi kita hari ini. Dan terimakasih atas kekuatan akan nostalgia masa lalu, dan harapan akan masa depan.
Selama ini aku beranggapan aku telah berbuat sesuatu. Tapi kenyataannya adalah aku belum berbuat apa-apa, untukku, untukmu, untuk kita. Dan tak sadar aku semakin menjauh.
Dan...
Hanya satu wanita yang dapat membuatku merasa benar-benar beda, mungkin ini yang namanya "cinta". Hanya satu dan satu-satunya. Sampai kemarin, sampai hari ini, mungkin sampai nanti. Tapi mudah-mudahan jangan sampai mati (hehehe rugi juga kalo ga dapat, mati melajang katanya jauh dari surga).
Ketika ku renungkan bagaimana seharusnya kisah cinta ini berlangsung, tak dapat kutemukan jawabnya. Tentu banyak imajinasi gila, khayalan indah menembus nirwana. Tapi realita tak seindah cerita. Dalam sebuah kisah cinta sebagaimana biasanya, tentu aku akan berhasil mendapatkan "cinta sejatiku", kami akan bersatu, bersama dan bahagia selamanya. Entah bagaimana pun caranya, rasional maupun mistis. Misteri jodoh akan mempertemukan kami. "The Invisible Power". Tak ada misteri dalam cinta, yang ada hanyalah sekumpulan fakta, persepsi, dan ekspektasi. Seringkali persepsi yang berbeda sehingga menimbulkan ekspekstasi yang berlebihan, tidak sesuai dengan fakta. Bersama seseorang seumur hidup pun belum tentu membuat kita
mencintainya. Dan sekali lagi amat sangat naif jika mengatakan inilah
misteri cinta.
Persepsi dan ekspektasi ini yang kuciptakan sendiri,
membuatku perlahan-lahan mempercayainya sebagai suatu kebenaran.
Kadang aku sadar itu salah. Malahan aku menyakini skenario yang
dibangun oleh imajinasiku. Semakin lama semakin sulit bagiku untuk
melepaskannya, dan menghadapi kenyataan. Karena aku takut untuk
terbangun dari mimpi indah itu. Aku takut fakta tak sesempurna itu, bahkan jauh berbeda dari cerita yang aku inginkan. Semakin hari semakin kuat khayalan itu mengikatku.
Sehingga aku seakan hidup diantara dua dunia, antara kenyataan dan
imajinasi. Saking berharapnya aku khayalan itu adalah sebuah
kenyataan. Sebut saja aku pengecut. Takut menghadapi kenyataan. Takut
menjadi realistis. Dan aku ingin mengatakan cukup untuk semua itu. Aku
tak ingin terpenjara oleh anganku sendiri.
Dunia Realistis. Lupakanlah dongeng indah pengantar tidur tentang cinta.
Ketika kisah ini berakhir lara...tentu tak ada yang patut dipersalahkan kecuali diriku sendiri. Kembali terngiang pesan kakekku suatu kali, "Berjejaklah pada bumi, maka kamu akan bahagia."
Meski atas nama "cinta" terkadang membuat kita merasa mampu melakukan yang mustahil, dibatas mampu. TERTIPU.
Awal atau Akhir. Mungkin satu diantara dua kata itu yang akan
menentukan. Kamu bisa berkata tidak, berarti ini adalah akhir. Jika
kamu berkata iya, berarti ini adalah sebuah awal. Awal dari sebuah
perjalanan. Awal dari sebuah kesempatan. Kesempatan yang selama ini
seakan tak sempat muncul. Atau aku yang tak pernah berusaha.
Segala sesuatu indah pada waktunya, termasuk cinta. Bukan sekedar "cinta sesaat" tentunya. atau "cinta sesat" (hehehe...ga ada kali!). Seringkali ketidaksabaran menghantui hari, melirihkan jiwa, meremukkan hati. Namun, beragam cerita berbeda dapat terjadi pada setiap waktu yang berbeda. Di setiap perjumpaan, disetiap perpisahan.
Untuk yang terkasih, pelangi yang menghiasi angkasa...dibalik senyum mentari
Que Sera, Sera
The future's not ours to see
Whatever will be, will be
Saturday, May 5, 2007
Piket Pagi Episode 3
Mandi. Berangkat kantor dari Depok menuju Velbak. Terbayang satu ritual di Minggu pagi yang terlewatkan. Bangun pagi (atau belum tidur), jalan-jalan ke pasar kaget, dan tidur lagi. Sejak pertama kuliah di UI, 7 tahun lalu, jarang sekali aku melewatkan hari Minggu tanpa berkunjung ke pasar tersebut. Sekedar jalan-jalan, sarapan, cuci mata atau belanja. Sejak "pasar terkejut" masih berlokasi di dalam kampus, yaitu di sepanjang jalan menuju asrama. Sampai digusur ke daerah pemukiman warga--diluar pagar kampus UI yang angkuh--gara-gara ledakan tabung gas tukang balon yang mencederai beberapa orang. Satu kecelakaan merusak segalanya.
Dan hari ini, sepertinya tak ada hal yang "lebih indah" daripada piket pagi di hari Minggu. Jam 6 pagi harus sudah berada di kantor. Memburu berita.... Siapa pula yang meng-klik www.TempoInteraktif.com sepagi ini di Hari Minggu. Aku yakin sebagian besar manusia di Jakarta ini masih terlelap nyenyak. Hari ini hari bersantai, melepaskan kepenatan. Rekreasi ke pantai atau hanya bermalas-malasan.
Ternyata kantor ga sesepi yang ku bayangkan. Tampaknya ada beberapa wartawan yang sudah "menetap" di kantor ini. Ya kantor, ya rumah. Begitulah. Masih banyak piket pagi menanti, minimal sebulan dua kali. Artinya lanjutan episode bangun pagi.
*ASM
New Kid on The Blog
Suatu pagi di hari Minggu di Velbak, hari ke enam bulan Mei tahun 2007
*ASM