Sekarang ia terbaring sakit. Untuk ke sekian kalinya menginap di RSPP yang tarifnya semalam setara dengan hotel bintang lima. Apalagi keluarga cendana memborong satu lantai. Tagihan pun dibayar dari kantong pribadi.
Demonstrasi silih berganti. Ada yang menuntut proses hukum Soeharto diteruskan. Ada yang meminta ia dimaafkan. Jaksa Agung atas perintah Presiden pun datang menawarkan damai atas tuntutan perdata yang sekarang sedang disidangkan.
Soeharto dituduh korupsi. Ia menumpuk harta melalui yayasan yang ia dirikan selama berkuasa. Majalah Time malah menahbiskan Soeharto sebagai orang terkaya. Soeharto menuntut dan menang, Time harus membayar ganti rugi sebesar Rp 1 Triliun.
Kekuasaan memang memabukkan. Apakah itu alasan ia bertahan demikian lama?
Soeharto dengan ambisi menciptakan stabilitas dinegeri ini memanfaatkan kuasa yang ia punya. Militer alat utamanya. Konflik selalu ia redam. Demokrasi seakan padam. Tapi, toh dosa itu tak harus ditanggung oleh dia sendiri. Ini dosa bersama. Mungkin tak semua, tapi segelintir orang dilingkaran kekuasaan turut terlibat.
Dengan motto "Asal Bapak Senang", mereka menuruti perintah Soeharto dengan cara mereka sendiri. Asal semua beres, apapun yang mampu dilakukan, mereka lakukan.
Secara politik, Soeharto melakukan apa yang harus ia lakukan untuk menciptakan kestabilan.
Secara ekonomi, konsep yang diusung oleh Mafia Berkeley lah yang ia percaya.
Harga sembako stabil. Stok cukup sehingga tak perlu antri. Pertumbuhan ekonomi rata-rata 7 persen (meskipun kesenjangan semakin melebar).
Menurutku dosa juga terletak pada orang-orang dekatnya. Termasuk anak-anaknya yang memanfaatkan posisi ayahnya sebagai presiden untuk menggais keuntungan pribadi. Seiring dengan tumbuhnya putra-putri Soeharto, keserakahan semakin besar.
...bersambung...
Tuesday, January 15, 2008
Ada Apa Dengan Orde Baru? (bagian 1)
Rabu dini hari...sambil berbaring di ubin teras RS Pertamina
Dingin! Semakin dingin! Dalam 24 jam terakhir belum sekejap pun aku terlelap. Malam sepi dan aku masih terjaga. Untungnya tak sendiri. Puluhan jurnalis yang lain juga menunggu. Bermalam diluar rumah bukan kemping. Entah dengan kamera, pena atau recorder.
Didalam sana, dilantai 5 terbaring orang nomor satu orde baru : Soeharto. 32 tahun ia berkuasa sebelum lengser Mei 1998. Pria yang menjadi bagian dari sejarah republik ini.
The Smiling General...entah ia masih bisa tersenyum saat ini. Jenderal besar yang bintangnya telah pudar dan semakin redup.
Orang lalu mengingat dosa. Ada pula yang mengenang jasa. Lalu ditimbang. Saya sendiri bimbang.
Saya dulu menggagumi sosok pria desa asal Wonogiri itu. Membawa Indonesia dari keterpurukan diakhir era Soekarno menuju pembangunan. Saat 1998, mahasiswa bergerak menumbangkan Soeharto, saya masih bertanya-tanya. Apakah Soeharto yang menanggung semua dosa?
Lalu ia terguling. Reformasi dimulai. Empat presiden berkuasa. Dari sang wakil yang naik mendadak, Habibie, Gus Dur, Megawati, lalu SBY. Indonesia toh tak makin baik. Ada yang bilang kerusakan yang diciptakan Soeharto kronis sehingga bangsa ini butuh waktu lama untuk pulih.
Saya lahir dimasa Soeharto berkuasa, tumbuh pada jaman itu pula. Tak mengerti benar apa ang diperjuangkan oleh aktivis 1998 waktu itu. Saya masih berseragam putih abu-abu. Yang saya rasakan adalah stabilitas, ketenangan, tak ada kerusuhan. Masih ada kebanggaan karena Indonesia masih dipandang didunia internasional. Di Asia Tenggara, Indonesia adalah macan. Merah putih yang berkibar didepan rumah tampak gagah.
...bersambung...
Dingin! Semakin dingin! Dalam 24 jam terakhir belum sekejap pun aku terlelap. Malam sepi dan aku masih terjaga. Untungnya tak sendiri. Puluhan jurnalis yang lain juga menunggu. Bermalam diluar rumah bukan kemping. Entah dengan kamera, pena atau recorder.
Didalam sana, dilantai 5 terbaring orang nomor satu orde baru : Soeharto. 32 tahun ia berkuasa sebelum lengser Mei 1998. Pria yang menjadi bagian dari sejarah republik ini.
The Smiling General...entah ia masih bisa tersenyum saat ini. Jenderal besar yang bintangnya telah pudar dan semakin redup.
Orang lalu mengingat dosa. Ada pula yang mengenang jasa. Lalu ditimbang. Saya sendiri bimbang.
Saya dulu menggagumi sosok pria desa asal Wonogiri itu. Membawa Indonesia dari keterpurukan diakhir era Soekarno menuju pembangunan. Saat 1998, mahasiswa bergerak menumbangkan Soeharto, saya masih bertanya-tanya. Apakah Soeharto yang menanggung semua dosa?
Lalu ia terguling. Reformasi dimulai. Empat presiden berkuasa. Dari sang wakil yang naik mendadak, Habibie, Gus Dur, Megawati, lalu SBY. Indonesia toh tak makin baik. Ada yang bilang kerusakan yang diciptakan Soeharto kronis sehingga bangsa ini butuh waktu lama untuk pulih.
Saya lahir dimasa Soeharto berkuasa, tumbuh pada jaman itu pula. Tak mengerti benar apa ang diperjuangkan oleh aktivis 1998 waktu itu. Saya masih berseragam putih abu-abu. Yang saya rasakan adalah stabilitas, ketenangan, tak ada kerusuhan. Masih ada kebanggaan karena Indonesia masih dipandang didunia internasional. Di Asia Tenggara, Indonesia adalah macan. Merah putih yang berkibar didepan rumah tampak gagah.
...bersambung...
Wednesday, January 9, 2008
Maaf...
Nafsu menggiringku gila
Desah melodi gairah ditelinga
Hembusan hangat nafas
Menggilas batas
Seruan nurani hanya bisik pelan
Dengarkan senandung setan
Nyanyi riang tanpa dosa
Senyum dibalik neraka
ia tertawa
ia jaya
Aku kalah
Aku tanpa daya
Dimana Allah
Mengapa gelap?
Tanpa cahaya
Aku butuh maaf
Tidak dari-Mu
Dari hatinya
Dari jiwaku
Aku tersesat
Aku terlaknat
Desah melodi gairah ditelinga
Hembusan hangat nafas
Menggilas batas
Seruan nurani hanya bisik pelan
Dengarkan senandung setan
Nyanyi riang tanpa dosa
Senyum dibalik neraka
ia tertawa
ia jaya
Aku kalah
Aku tanpa daya
Dimana Allah
Mengapa gelap?
Tanpa cahaya
Aku butuh maaf
Tidak dari-Mu
Dari hatinya
Dari jiwaku
Aku tersesat
Aku terlaknat
Thursday, December 27, 2007
Akhir adalah Awal Bagi Yang Lain
Setiap hari adalah istimewa. Karena waktu tak berulang. Menjelang habis masa untuk 2007, banyak yang sudah tak sabar melepas lembar demi lembar kalender. Demi 2008. Aneh. Toh satu detik di 2007 sama dengan satu detik di 2008. Yang membedakan mungkin semangat yang timbul pada sesuatu yang baru. Seperti anak kecil (apapun jenis kelaminnya) dan laki-laki yang selalu bersemangat dengan mainan baru. Toh, yang baru juga akan menjadi lama. Tapi ada juga yang lama tetap baru. Seorang kawan lama bagiku tetap baru, bukan bermakna kedekatan yang berjarak, tapi semangat.
Semangat di tahun yang baru, dengan daftar resolusi yang mungkin lebih memusingkan dari laporan keuangan negara. Menebus kesalahan ditahun yang tertinggal. Meningkatkan yang sudah baik. Menggapai yang belum tercapai. Membuat mimpi dan mengejarnya.
Akhir adalah Awal bagi yang lain. Akhir 2007 adalah permulaan bagi 2008.
Happy New Year (sambil mendengar lagu John Lennon...)
Semangat di tahun yang baru, dengan daftar resolusi yang mungkin lebih memusingkan dari laporan keuangan negara. Menebus kesalahan ditahun yang tertinggal. Meningkatkan yang sudah baik. Menggapai yang belum tercapai. Membuat mimpi dan mengejarnya.
Akhir adalah Awal bagi yang lain. Akhir 2007 adalah permulaan bagi 2008.
Happy New Year (sambil mendengar lagu John Lennon...)
Wednesday, July 25, 2007
Kumis Pun Jadi Jualan
Semakin kreatif dan menggelitik memperhatikan warna-warni Pilkada Jakarta. Rame! Mulai dari usulan calon independen yang kandas, meski pada akhirnya Mahkamah Konstitusi mengijinkan juga. Namun, kereta sudah berangkat. Jadilah, calon independen itu harus sabar menunggu sampe kereta berikutnya tiba tahun 2012.
Lalu, demo demi demo menghujani KPUD. PKS merasa dicurangi. Mulai dari Ghost Voters sampai yang ga terdaftar. Masalah ghost voters ini, gw pikir kalaupun ada mesti Fauzi Bowo yang meraup semua suara. Bukan karena dia adalah wagub yang bisa menggerakkan birokrat. Tapi, dia memang menyiapkan juru kampanye yang mumpuni. Dalam nama jurkam yang disetor ke KPUD tertera nama Taufik Savalas yang sudah almarhum. Sedangkan kubu Adang tidak menyiapkan jurkam khusus untuk para "ghost voters" ini.
Tapi, ghost voters ini ada yang benar-benar "ghost". Ada yang sudah meninggal dunia, masih dimasukkan kedalam Daftar Pemilih Tetap. Wajar sih. Masa' ga ada yang mati selama kurun waktu pendaftaran pemilih sampai pencoblosan.
Sekarang, Jakarta terkepung spanduk. Sebagian spanduk mengundang tawa dengan sentilan sedikit nakal.
Adang : Relawan Oranye
Foke : Orangnye Jakarta
Foke : Serahkan Kepada Ahlinya
Adang : Ahlinya Ke Mane Aje?
Adang : Ayo Benahi Jakarta
Foke : Percayakan Pembenahan Jakarta Kepada Ahlinya
Foke : Keberagaman (Secara didukung 20 partai politik)
Adang : Pok Ame-Ame, Belalang Kupu-Kupu, Dikeroyok Rame-Rame, Tetap Pilih Nomor Satu
Adang : Bosan Ama Pemimpin Lama, Pilih Yang Baru
Foke : New Comer, Kagak Deh
Tapi, Foke unggul karena dia berkumis. Bunyi posternya : "Coblos Yang Ada Kumisnye"
Mungkin untuk mengimbanginya, Adang perlu memelihara jenggot. Jadi "Coblos Yang Ada Jenggotnye"
*f1
Lalu, demo demi demo menghujani KPUD. PKS merasa dicurangi. Mulai dari Ghost Voters sampai yang ga terdaftar. Masalah ghost voters ini, gw pikir kalaupun ada mesti Fauzi Bowo yang meraup semua suara. Bukan karena dia adalah wagub yang bisa menggerakkan birokrat. Tapi, dia memang menyiapkan juru kampanye yang mumpuni. Dalam nama jurkam yang disetor ke KPUD tertera nama Taufik Savalas yang sudah almarhum. Sedangkan kubu Adang tidak menyiapkan jurkam khusus untuk para "ghost voters" ini.
Tapi, ghost voters ini ada yang benar-benar "ghost". Ada yang sudah meninggal dunia, masih dimasukkan kedalam Daftar Pemilih Tetap. Wajar sih. Masa' ga ada yang mati selama kurun waktu pendaftaran pemilih sampai pencoblosan.
Sekarang, Jakarta terkepung spanduk. Sebagian spanduk mengundang tawa dengan sentilan sedikit nakal.
Adang : Relawan Oranye
Foke : Orangnye Jakarta
Foke : Serahkan Kepada Ahlinya
Adang : Ahlinya Ke Mane Aje?
Adang : Ayo Benahi Jakarta
Foke : Percayakan Pembenahan Jakarta Kepada Ahlinya
Foke : Keberagaman (Secara didukung 20 partai politik)
Adang : Pok Ame-Ame, Belalang Kupu-Kupu, Dikeroyok Rame-Rame, Tetap Pilih Nomor Satu
Adang : Bosan Ama Pemimpin Lama, Pilih Yang Baru
Foke : New Comer, Kagak Deh
Tapi, Foke unggul karena dia berkumis. Bunyi posternya : "Coblos Yang Ada Kumisnye"
Mungkin untuk mengimbanginya, Adang perlu memelihara jenggot. Jadi "Coblos Yang Ada Jenggotnye"
*f1
Friday, July 6, 2007
Ketika Rambutku Tak Lagi Gondrong
Tertawa...berhenti sejenak, lalu meluncur pertanyaan,"Elu kenapa Sof? Stres ya?". Reaksi seperti itulah yang kudapat dari teman-temanku melihat potongan rambut baruku. Dimulai dari teman kos, teman liputan, teman kantor. Semuanya kaget. Seperti tumbuh tanduk saja dikepalaku. Hehehe...
16 Juni 2007
TKP : Suatu salon di Mal Ciputra
Ya, disitulah aku memotong rambutku.
Ketika aku sampai di Depok, saat aku membuka helm, beberapa teman langsung tertawa terbahak-bahak. Mungkin ini adalah potongan rambutku yang terpendek sejak beberapa tahun terakhir.
"Elu cupu banget. Ga kayak wartawan," kata seorang kawan.
Ada juga yang menduga aku sedang patah hati. Ada pula yang mengira aku akan berganti profesi. "Elu keluar dari Tempo?" tanyanya. Ada lagi yang suka sekali mengusap rambutku, seperti ada yang aneh saja.
Namun, ada satu komentar yang paling mendalam. "Elu motong rambut seperti Guevara menjadi kapitalis," kata seorang kawan dengan ekspresi datar. Maksudnya?? "Menurut gue, kegondrongan rambut lu menunjukkan idealisme lu," lanjutnya ga jelas.
Saat memasuki ruang rapat Metro Senin malam kemarin, Redpel Metro bertanya,"Pertanyaan pertama : Sof, kenapa lu potong rambut?"
Ada teman yang menjawab gara-gara depresi dikantor. "Ga ada jadwal sebulan, jadi kayak gitu," ujarnya.
Tapi, nampaknya hanya satu teman yang mengerti. Saat itu, gue datang ke pernikahan teman. "Gue kaget saat lihat lu datang dengan potongan rambut baru," katanya. "Tapi, saat gue lihat seseorang dibelakang lu, gue ngerti."
Ia tak salah, tapi juga ga sepenuhnya benar. Cerita sebenarnya cukup menggelikan.
Dulu, gue pernah memanjangkan rambut sepinggang. Waktu itu gue berjanji ga akan memotong rambut sebelum lulus kuliah. Apa hendak dikata, gue ga lulus-lulus. Jadi semakin panjang rambut gue, sampai akhirnya gue menyerah dan memotong tuh rambut.
Sekitar setahun yang lalu, gue mendapat panggilan Mr.Bob gara-gara potongan rambut. Sekarang, ada yang bilang mirip tokoh dalam kartun Jepang. Ada yang bilang mirip Lupus. Sudahlah...ini cuma masalah rambut yang bisa panjang lagi.
16 Juni 2007
TKP : Suatu salon di Mal Ciputra
Ya, disitulah aku memotong rambutku.
Ketika aku sampai di Depok, saat aku membuka helm, beberapa teman langsung tertawa terbahak-bahak. Mungkin ini adalah potongan rambutku yang terpendek sejak beberapa tahun terakhir.
"Elu cupu banget. Ga kayak wartawan," kata seorang kawan.
Ada juga yang menduga aku sedang patah hati. Ada pula yang mengira aku akan berganti profesi. "Elu keluar dari Tempo?" tanyanya. Ada lagi yang suka sekali mengusap rambutku, seperti ada yang aneh saja.
Namun, ada satu komentar yang paling mendalam. "Elu motong rambut seperti Guevara menjadi kapitalis," kata seorang kawan dengan ekspresi datar. Maksudnya?? "Menurut gue, kegondrongan rambut lu menunjukkan idealisme lu," lanjutnya ga jelas.
Saat memasuki ruang rapat Metro Senin malam kemarin, Redpel Metro bertanya,"Pertanyaan pertama : Sof, kenapa lu potong rambut?"
Ada teman yang menjawab gara-gara depresi dikantor. "Ga ada jadwal sebulan, jadi kayak gitu," ujarnya.
Tapi, nampaknya hanya satu teman yang mengerti. Saat itu, gue datang ke pernikahan teman. "Gue kaget saat lihat lu datang dengan potongan rambut baru," katanya. "Tapi, saat gue lihat seseorang dibelakang lu, gue ngerti."
Ia tak salah, tapi juga ga sepenuhnya benar. Cerita sebenarnya cukup menggelikan.
Dulu, gue pernah memanjangkan rambut sepinggang. Waktu itu gue berjanji ga akan memotong rambut sebelum lulus kuliah. Apa hendak dikata, gue ga lulus-lulus. Jadi semakin panjang rambut gue, sampai akhirnya gue menyerah dan memotong tuh rambut.
Sekitar setahun yang lalu, gue mendapat panggilan Mr.Bob gara-gara potongan rambut. Sekarang, ada yang bilang mirip tokoh dalam kartun Jepang. Ada yang bilang mirip Lupus. Sudahlah...ini cuma masalah rambut yang bisa panjang lagi.
Tiga Lembar Surat Yang Terlupakan
Seminggu yang lalu, saat gw pindah kamar, merapikan barang-barang, buku agenda tahun 2005-ku terselip diantara tumpukan buku yang lain. Buku itu cukup menarik perhatianku, kupisahkan dari yang lain.
Tiga jam kemudian, jam 2 dinihari, badanku terasa lelah. Kubaringkan tubuh diatas tempat tidur yang berderit setiap kali aku bergerak. Kepalaku menyentuh agenda itu. Kunyalakan lagi lampu kamar, ku buka agenda yang mulai berdebu itu. Mulai dari halaman depan, coret-coretan jadwal, rencana, curhat, sampai tulisan yang tak terbaca.
Di dalam agenda itu juga terselip berbagai kertas, mulai dari kuitansi, formulir, foto, sampai kertas yang ga jelas buat apa. Satu hal yang membuatku penasaran. Sepertinya sebuah amplop, berwarna biru muda polos. Ku ambil amplop itu, tak ada tulisan apapun. Namun masih belum dibuka. Dan aku semakin penasaran, kuterawang ke arah lampu. Isinya kemungkinan besar memang surat. Surat apa? Dari siapa? Untuk Siapa? Mengapa sekarang aku baru mengetahui surat itu ada?
Kuputuskan membuka amplop dan membaca isinya. Tiga lembar jumlahnya. Kertas halaman buku tulis biasa. Sekilas, aku mengenal tulisan tangan yang rapi itu. Dan memang benar surat tanpa tanggal itu tertuju untukku.
Aku semakin kaget membaca kata demi kata dalam surat itu. Dan aku hanya bisa meminta maaf dalam hati. Aku melupakan surat itu. Bahkan baru kubaca setelah dua tahun ditulis untukku. Ya, hanya maaf yang bisa terucap. Mungkin banyak hal yang berbeda seandainya saja aku dulu membacanya. Mungkin juga tidak. Maaf...
Tiga jam kemudian, jam 2 dinihari, badanku terasa lelah. Kubaringkan tubuh diatas tempat tidur yang berderit setiap kali aku bergerak. Kepalaku menyentuh agenda itu. Kunyalakan lagi lampu kamar, ku buka agenda yang mulai berdebu itu. Mulai dari halaman depan, coret-coretan jadwal, rencana, curhat, sampai tulisan yang tak terbaca.
Di dalam agenda itu juga terselip berbagai kertas, mulai dari kuitansi, formulir, foto, sampai kertas yang ga jelas buat apa. Satu hal yang membuatku penasaran. Sepertinya sebuah amplop, berwarna biru muda polos. Ku ambil amplop itu, tak ada tulisan apapun. Namun masih belum dibuka. Dan aku semakin penasaran, kuterawang ke arah lampu. Isinya kemungkinan besar memang surat. Surat apa? Dari siapa? Untuk Siapa? Mengapa sekarang aku baru mengetahui surat itu ada?
Kuputuskan membuka amplop dan membaca isinya. Tiga lembar jumlahnya. Kertas halaman buku tulis biasa. Sekilas, aku mengenal tulisan tangan yang rapi itu. Dan memang benar surat tanpa tanggal itu tertuju untukku.
Aku semakin kaget membaca kata demi kata dalam surat itu. Dan aku hanya bisa meminta maaf dalam hati. Aku melupakan surat itu. Bahkan baru kubaca setelah dua tahun ditulis untukku. Ya, hanya maaf yang bisa terucap. Mungkin banyak hal yang berbeda seandainya saja aku dulu membacanya. Mungkin juga tidak. Maaf...
Subscribe to:
Comments (Atom)